Senin, 15 Juni 2009

MUSLIM TEORITIS

B

etapa banyak orang yang tahu tentang Islam, ia tahu bahwa ada perintah Allah swt (wajib) tetapi masih diabaikannya, ia tahu larangan Allah swt (haram) tetapi masih dikerjakannya. Ia telah menjadi muslim/muslimah teoritis, baginya Islam hanya setumpuk informasi yang ia simpan digudang memorinya. Islam menjadi kering tanpa makna!, tidak aplikatif dalam kehidupannya!

Mereka bisa jadi, tidak menjalankan syari’at Allah swt dengan alasan belum memperoleh hidayah Allah swt. Jangan!, jangan kambing-hitamkan Allah swt yang tidak memberikan hidayah, jangan tambah lagi kemaksiaatan baru dengan berburuk sangka kepada Allah swt. Allah swt telah menurunkan hidayah-Nya kesetiap manusia, manusia saja yang ingkar dan sombong serta tidak mau membuka pintu hatinya menerima kebenaran yang datangnya dari Allah swt.

Lihatlah para artis itu betapa islami penampilannya dengan jilbab selama bulan Ramadhan, setelah Ramadhan berlalu ia tanggalkan semuanya dan kembali kezaman jahiliyah dengan aurat bertebaran. Ia pikir, Islam hanya ada dibulan Ramadhan?

Lihatlah remaja putri dan Ibu-ibu shalat tarawih dimesjid, dengan mukena indah dan rapi menutup aurat. Tetapi sepulang dari mesjid ia tanggalkan mukena itu, yang tersisa baju kaos ketat dan celana pendek diatas lutut. Ia pikir, Islam hanya ada dimesjid?

Islam tidak terbatas dalam waktu tertentu, yakni dibulan Ramadhan saja. Islam tidak terbatas ditempat tertentu, yakni dimesjid saja. Islam berlaku disegala zaman dan disemua tempat. Syari’at yang berlaku di negeri Arab juga berlaku disini, syari’at yang berlaku dizaman Rasulullah saw juga berlaku dizaman ini. Judi dizaman Rasulullah dengan panah dan sekarang dengan pacuan kuda. Tekniknya saja yang berkembang, tetapi tetap judi dan haram hukumnya.

Satu masalah kecil masuk WC, diatur oleh syari’at Allah swt yang mulia. Untuk masuk WC baca do’a, masuk dengan kaki kiri, ada adab dalam WC, keluar WC baca do’a lagi dan keluar dengan kaki kanan. Perhatikan!, satu masalah kecil MASUK WC ada aturannya dalam Islam (Al-Quran dan sunnah), mustahil Islam tidak mengatur MASUK PASAR untuk berdagang, MASUK PERUSAHAAN untuk bekerja, MASUK RUMAH TANGGA disaat menikah, MASUK NEGARA untuk mengurus rakyat, MASUK MASYARAKAT untuk bersosialisasi, dan MASUK-MASUK yang lainnya. Maha Suci Allah swt atas kealpaan dalam mengatur urusan manusia yang diciptakan-Nya, tidak ada secuil urusan-pun yang terlupakan oleh Allah swt.

Sehingga, setiap sisi kehidupan kita harus mengikuti syari’at Allah swt, apakah aktifitas individu, jama’ah atau negara, sama-sama harus mengikuti aturan Allah swt (syari’at Islam). Lantas, bagaimana kita tahu telah melanggar aturan atau tidak, jika kita tidak mempelajari aturan itu. Itulah gunanya untuk mengkaji Islam lebih dalam, agar kita tahu adakah rambu-rambu Allah swt yang telah dilanggar.

Karena setiap amal kecil maupun besar, tampak maupun tidak tampak, dahulu maupun sekarang, akan diperhitungkan di yaumil akhir nanti (akhirat). Sebesar atom kebaikan akan dihitung sebagai pahala, sebesar atom kemaksiaatan akan dihitung sebagai dosa.

Maka siapa saja mengerjakan kebaikan sebaerat dzarrahpun, niscaya akan melihat (balasan)nya, dan siapa saja yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (Al-Zalzalah 7-8).

Untuk itu, jangan jadi muslim/muslimah teoritis, tingkatkan pemahaman keislaman kita (aqliyah), kemudian laksanakan dalam setiap gerak langkah kehidupan kita (nafsiyah). Sehingga Islam merasuk kedalam jiwa, mengalir dalam darah, memancar dalam setiap ucapan dan perbuatan, sehingga muslim/muslimah itu bagaikan Islam yang berjalan.

Mari menuju kesempurnaan Islam dengan aqliyah dan nafsiyah Islam tadi, karena kita juga ingin memperoleh hasil yang sempurna, yakni syurga Allah swt.

Minggu, 14 Juni 2009

Nasehat Lukman Al Hakim

Nasehat Lukman Al Hakim Pada Anaknya

Satu-satunya manusia yang bukan nabi, bukan pula Rasul tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Qur'an adalah Lukman Al Hakim. Kenapa, tak lain, karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hidup.

"Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan badah, dan hilang pulalah ketulusan dan kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir."

"Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu. Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya."

"Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan. Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu."

�"Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku juga sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya."

"Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan."

"Anakku, aku sudah mengalami penderitaan dan bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung hutang."

"Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi. Kalimat itu adalah:

1. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik.
2. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.
3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu.
4. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu.
5. Ingatlah Allah selalu.
6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu
7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.
8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu.